Monolog Seorang Muslimah Desa

  • 0

Langit tetap membiru seperti biasa,

Burung yang berkicau di rimba,

Seawal pagi lagi sudah terbang,

Mencari sesuap nasi buat yang tersayang,

Air di sungai tetap tabah mengalir,

Menelusiri denai semilir lautan,

Sang mentari punyai kisahnya yang tersendiri,

Dada langit yang dipalit awan,

Berarak pantas mengelilingi bumi Tuhan,

Kelibat pelangi pula kan muncul selepas hujan,

Dan dia...

Seorang muslimah desa,

Masih berdiri di tempat duduknya,

Ditemani pelita usang yang pudar cahayanya,

Kain lusuh yang menyeka airmata,

Tetap erat dalam pelukannya,

Bagaikan menanti sesuatu,

Yang dirinya sendiri tak pasti,

Apakah hati ingin menakluki,

Sebuah pertaruhan jiwa dan hati,

Yang akhirnya membungkam sepi,

Penghujung yang tak di ingini.

Wahai Pencipta dunia,

Selamatkan dia, seorang muslimah desa.

Yang ingin terbang menggapai cinta,

Bukan pelangi sesudah kelam senja,

Namun hanya mendamba sekuntum bahagia,

Dalam mengabdi dirinya,

Buat sang Pemilik nyawa.
“Jika kamu tidak mengisi masamu dengan Islam, maka jahiliyyah akan mengisinya.” 
Tulisan dari hati. Moga dapat mengetuk hati yang lain, dari 
yang tertutup rapat, terbuka luas dengan sendirinya. InsyaAllah.
Jauh di sudut hati kecil ku ini sebenarnya ingin menjadi seorang penulis. 
Tapi ku rasakan ianya MUSTAHIL. Maka, aku pendamkan saja lah hasrat itu. 
Takda bakat menulis pun. Lalu "Blog" ku pilih sebagai medanku untuk 
memberi ruang pada salah satu hobiku. Bukan sebagai penulis.
Tapi "Sweet Blogger". :')
 Itulah aku. Kadang kadang mudah sangat putus asa. 
Kurang keyakinan pada diri sendiri. Memang perangai. 
Hishh. Tapi memang betul pun. Aku tahu.
Wallahu a'lam
Wassalam